70% Petani di Abdya Miskin Perlu Benih Padi Unggul

Akmal Ibrahim menyerahkan penghargaan kepada pemateri dalam kegiatan pertemuan penangkar padi. (Realitasonline/ist)

BLANGPIDIE – Realitasonline | Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Akmal Ibrahim minta sejumlah penyuluh di Abdya bekerja ekstra dan berkompetisi untuk menghasilkan benih padi unggul berkualitas serta bisa menghasilkan lebih banyak dan rasa enak.

Bupati Abdya, Akmal Ibrahim saat membuka kegiatan pertemuan penangkar padi menjadi momentum mewujudkan Abdya sebagai sumber benih padi propinsi, nasional dan se Sumatra di aula Bappeda Abdya, Rabu (11/9/2019).

Acara itu turut didampingi Asisten Ekonomi Pembangunan Setdakab Abdya, Salman Alfarisi ST, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Abdya, drh Nasruddin. Juga turut menghadirkan dua pemateri dari Fakultas Pertanian Unsyiah, Efendi dan Muyyasir, puluhan kelompok tani, kelompok penangkar dan para penyuluh pertanian.

Akmal menyampaikan hampir 70% petani di Abdya merupakan keluarga miskin maka perlu benih unggul dan berkualitas yang bisa menolong hidup orang miskin.

Menurutnya, menolong orang miskin perintah Allah SWT sebagaimana disebut dalam Al Quran tepatnya isi dari surat Almaun. “Banyak kritikan terhadap saya karena terlalu memerhatikan sektor pertanian pada periode saya bupati dulu. Mengapa demikian, rata-rata petani itu adalah orang miskin. Maka jangan dilihat dengan kacamata politik, tapi lihat dalam kacamata agama,” ungkapnya.

Kebijakan yang selama ini dijalankan, semua untuk membantu orang miskin. Mulai dari ongkos bajak sawah, hingga ongkos memanen padi juga berpihak pada petani bahkan termurah secara nasional. “Penangkar yang kita canangkan ini lebih mengutamakan petani  yang tidak mampu,” tuturnya.

Maka dari itu, penyuluh harus kerja ekstra, karena banyak petani yang diperhatikan rata-rata orang miskin. Jalankan sesuai dengan amanah untuk membuat penangkaran di Abdya lebih maksimal.

“Kita siapkan bibit yang bagus karena persaingan global. Dari segi produksi dan kualitas kita dipaksa untuk berkompetisi, jadi  buat benih itu harus unggul supaya hasil lebih banyak dan rasanya juga enak,” ujar Akmal.

Tahun depan, kelas pertanian di Abdya akan masuk kompetisi premium, dengan didukung pabrik padi modern yang tahun 2019 akan siap berlokasi di Kecamatan Tangan-Tangan.

“Ada beberapa perusahaan besar penyedia benih padi secara nasional hanya memiliki lahan rata-rata 3000 hektare. Maka dari itu kita harus mandiri dengan membuat penangkar sendiri yang tidak kalah bagusnya juga,” pungkas Akmal.

Informasi yang dihimpun, dua pemateri dari Fakultas Pertanian Unsyiah akan membahas  pengembangan padi varietas Sigupai Abdya, yakni memperpendek umur dari 5 jadi 3 bulan. Begitu juga batangnya dari 1,6 m jadi 1,2 m. Hasil bisa mencapai di atas 8 ton per hektare.

Kemudian juga ada varietas padi Batuta (Batat Tungang Tat) yang berasal dari Padi Sambai Simeulue, umurnya 4 bulan sampai 3,5 bulan. Hasilnya di atas 8 ton perhektare, tahan hama penyakit, tahan kekeringan dan suhu tinggi serta tidak memerlukan pemeliharaan intensif tapi hasilnya lebih banyak dari padi biasa. (ZA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukan komentar Anda disini
Masukan Nama Anda Disini