Berdalih Tidak Punya Kwitansi, Mayat Korban Lakalantas Tertahan 2 Jam di RSUD Sibuhuan

25
GT Hamonangan Daulay saat memberikan keterangan kepada awak media di halaman RSUD Palas. (Realitasonline/ist)

PALAS – Realitasonline | Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sibuhuan di Kab. Padanglawas (Palas) kembali membuat ulah, Kamis (13/6/2019). Gara-gara pelayanan rumah sakit plat merah ini yang tidak profesional telah membuat Assisten I Pemkab Palas, GT Hamonangan Daulay berang.

Pasalnya, mayat pasien bernama Mara Nahum Harahap (50), warga Desa Ujung Batu Kec. Sosa  sempat  dua jam lebih tertahan di rumah sakit tersebut, hanya karena alasan pembayaran biaya administrasi perawatan.

Diketahui mayat pasien tersebut adalah korban lakalantas di  Desa Ujung Batu. Oleh keluarga pasien membawa korban ke Puskesmas Ujung Batu untuk dilakukan perawatan. Namun oleh petugas Puskesmas menyarankan korban dibawa ke RSUD Sibuhuan, karena mengalami luka dan pendarahan serius.

Akhirnya korban pun dibawa  pihak keluarga ke RSUD Sibuhuan Kamis,
(13/6/2019). Sekitar pukul  09.50 korban pun tiba di rumah sakit Sibuhuan. Korban dan langsung dibawa ke ruangan IGD untuk dilakukan pertolongan pertama. Namun nyawa korban tidak terselamatkan. Selanjutnya pihak keluarga minta  kepada tim medis agar dipersiapkan administrasi untuk membawa almarhum pulang.

Kejadian yang membuat Assisten I Pemkab Palas, GT Hamonangan
Daulay berang saat dirinya mendatangi kasir rumah sakit. Hamonangan bertanya kepada kasir berapa biaya perawatan almarhum.

“Berapa biaya perawatan pasien,” tanya Hamonangan Daulay.  Lalu dijawab kasir, biayanya Rp 1,5 juta Pak, katam Hamonangan mengulangi ucapan kasir rumah sakit tersebut.

“Iya gak apa apa, saya bayar biayanya, tolonglah dibuatkan
kwitansinya,” pinta Hamonganan. Namun kasir menolak membuatkan kwitansinya dengan beralasan tidak ada kwitansi.

“Kenapa tidak ada kwitansinya, ini kan rumah sakit pemerintah, kemana nanti uangnya dibuat. Ini kan merupakan pemasukan rumah sakit,” kata Hamonangan Daulay bernada kesal. Namun Kasir tetap bertahan tidak mau membuatkan kwitansinya.

Hamonangan Daulay  pun akhirnya menelpon direktur rumah sakit. “Saya telpon direktur beberapa kali, namun tidak diangkat, “ucap Hamonangan. (IN)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukan komentar Anda disini
Masukan Nama Anda Disini