Aceh Daerah Tertinggal Yang Tak Dapat Dibangun Dengan Mono Politik

83
Partai Sira saat berorasi di hadapan masyarakat Dewantara. (Realitasonline/Hasanuddin)

ACEH UTARA – Realitasonline | Aceh salah satu daerah tertinggal sejak 60 tahun lamanya.  Aceh tidak mungkin dapat dibangun oleh satu partai politik.  Demikian Muhammad Nazar pada silaturahim pengurus dan Caleg Partai Sira dengan masyarakat Dewantara di lapangan pusat kota, Selasa (9/4/2019).

Dia menegaskan apa yang dialami partai lokal di Aceh saat ini dan sebelumnya agar menjadi pelajaran tebaik bagi pimpinan partai politik lokal dan masyarakat Aceh bahwa membangun Aceh dan menguasai parlemen secara mono politik atau secara sendiri-sendiri atau hanya satu partai politik.

Apalagi dengan dinamika kecanggihan sekarang ini.
Nazar memaparkan tidak mungkin Aceh dapat bangkit dari daerah tertinggal, apabila pembangunan Aceh dilaksanakan secara sendiri-sendiri. Aceh merupakan salah satu daerah di Indonesia yang sudah tertinggal sejak 60 tahun silam. Dari itu Aceh butuh banyak pemikir dan penggagas untuk mengejar ketertinggalan tersebut. 

Apapun kebijakan partai politik dan pemerintah dapat mudah diakses dan diketahui publik, salah satunya kelemahan SDM pada seorang pejabat daerah, kata Nazar.

Berdasarkan data statistik Aceh saat ini memiliki penduduk mencapai 5 juta jiwa. Dari jumlah tersebut 15% berasal dari masyarakat non Aceh. Oleh karena itu tantangan untuk Aceh ke depan cukup berat, apalagi dengan kondisi Aceh daerah yang tertinggal puluhan tahun.

“Dengan batas kemampuan yang kita miliki tidak mungkin kita, bagai mana kita bisa mampu mengejar ketinggalan daerah kita bila tidak memiliki politik dan strategi ekonomi bisnis serta sumberdaya yang kuat. Dari itu dibutuhkan kekompakan masyarakat Aceh, jangan suka bergaduh dengan suku kita sendiri bila tidak ada musuh dari luar,” papar Nazar.

Oleh karena itu tambah Nazar, sejak Partai Sira  didirikan dengan berasaskan Islam dan keacehan mencoba untuk membangun peradaban politik agar pembangunan di Aceh tidak kering dari nilai kemanusiaan, sosial dan agama, serta syariat yang tidak terbatas dengan implementasi panisme, dengan hukum dan hudut, syariat harus meliputi seluruh tata kehidupan, termasuk dalam tatanan politik dan sosial masyarakat,” imbuhnya.

“Masyarakat harus mempersiapkan diri dari sekarang untuk menghadapi tantangan ke depan, terutama untuk menghadapi perilaku sosial generasi ke depan yang disebabkan ancaman dan tantangan dari luar yang dapat merusak aqidah generasi Aceh,” katanya. 

Dari itu kehadiran partai politik lokal diharapkan memiliki peran dalam pembangunan betul-betul ada keacehan dan keislaman, harus beda dengan daerah lain, sehingga nilai tawar Aceh tidak menurun di mata bangsa atau suku lain.

Dalam orasinya, Muhammad Nazar menyebutkan Partai Sira merupakan salah satu partai lokal tertua di Aceh. Partai ini lahir dari proses perjuangan aktifis referendum dalam memperjangkan melahirkan perdamaian dan terbentuknya partai lokal di Aceh.

“Sentral informasi referendum Aceh salah satu organisasi mahasiswa Aceh yang mendukung penuh perdamaian antara pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Bahkan para aktifis kerap terbang ke luar negeri untuk mencari solusi agar konflik Aceh yang berkepanjangan dapat segera berakhir di meja perundingan,” kata Nazar.

Nazar menyebutkan Partai Sira bukan partai penikmat sejarah, tapi Partai Sira lahir ke kancah politik Aceh tidak terlepas dari tuntutan politik di Aceh saat ini.” Sudah sekian lama Partai Sira vakum, namun karena pertimbangan terkait kondisi politik  dan sosial masyarakat saat ini, sehingga menggugah hati para mantan aktifis untuk kembali terjun ke dunia politik dan membangun kembali partai yang sudah sepuluh tahun vakum.

“Hadirnya Partai Sira dalam Pemilu 2019 merupakan hajat dari lapisan masyarakat Aceh, hal tersebut terlihat dari antusias masyarakat yang ingin mendaftarkan kembali. Partai Sira digagas saat batas pendaftaran tinggal satu bulan. Alhamdulillah berkat bantuan dari semua elemen masyarakat Partai Sira dapat melewati semua proses dan terdaftar sebagai partai peserta Pemilu 2019,” ujar Muhammad Nazar.

Lanjut Nazar, Caleg yang diusung Partai Sira ingin mewarnai parlemen di Aceh, baik di tingkat propinsi dan kab/kota, artinya mereka akan bersenergi dengan partai lain untuk membangun kembali pembangunan dan peradaban Aceh, kata Muhammad Nazar yang juga mantan Wakil Gubenur Aceh periode 2007-2012 dari jalur perseorangan. (HS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukan komentar Anda disini
Masukan Nama Anda Disini