Kelapa dan Arang Aceh Jadi Incaran Pengusaha Cina dan Timur Tengah

191
Pengusaha komoditi Aceh MoU dengan pengusaha Timur Tengah. (Realitasonline/Hasanuddin)

LHOKSEUMAWE – Realitasonline | Pengusaha dari luar negeri mulai incar komoditi Aceh, bahkan kelapa dan arang Acehpun telah menembus pasar Cina dan Timur Tengah.

Pengusaha dari berbagai negara mulai datang ke Aceh, mereka ingin menjajaki pasar komoditi sekaligus mencari pengusaha lokal yang bisa diajak bekerja sama dalam hal ekspor barang komoditi.

Ketertarikan para pengusaha terhadap komoditi Aceh sangat beralasan, karena kualitas komoditi Aceh sesuai dengan standar yang dibutuhkan masyarakat di luar negeri, seperti Cina dan Timur Tengah.

Iskandar Isa SE Ak, Direktur PT. Achem Charcol di Jl. Panglateh, Gampong Keude Aceh, Kec. Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Rabu (13/3/2019), menyebutkan, permintaan komoditi dari Aceh oleh pegusaha dari Cina dan Timur tengah semakin hari semakin meningkat.

“Sampai saat ini kami belum mampu mengakomodir seluruh permintaan pengusaha pasar di sana, sesuai dengan standar yang telah di tetapkan,” sebut Iskandar.

Iskandar menjelaskan sebelumnya hasil komoditi yang diorder dari Aceh di tampung di Medan, Sumatra Utara, karena semakin hari permintaan pasar di sana semakin tinggi, sehingga menggugahnya untuk membuka tempat penampungan di Aceh, tepatnya Gampong Kulu Kuta, Kec. Gandapura, KM 235, No.99 Bireun. Untuk komoditi arang, pihaknya berencana akan buka gudang di Gampong Mesjid Punteut, Kec. Blang Mangat, Lhokseumawe.

“Saya sudah bergelut di usaha dagang komoditi sejak enam tahun lalu, dan giat-giatnya melakukan ekspor komoditi itu ke Cina dan Timur Tengah, di antaranya kelapa bulat dan briket arang yang bahan bakunya dari batok kelapa dan juga kayu keras,” jelasnya.

Bahkan, tambah Iskandar, hari ini PT. Achem Charcol kembali menerima kedatangan pegusaha pasar ternama dari Timur Tengah, asal Dubai. Kedatangan mereka untuk menandatangani MoU kerja sama terkait ekspor arang dan kelapa, bahkan dalam perjanjian itu telah disepakati untuk mengekspor kelapa bulat sesuai standar, sebanyak empat kontainer per bulan. Dalam pembicaraan awal para pengusaha itu minta agar mengirim 10 kontainer perbulan, dalam satu kontainer harus dapat menampung kelapa mencapai 27 ton. Namun, kami belum mampu memenuhi permintaan itu, sehingga dalam kesepakatan hanya disebut empat kontainer saja.

“Insya Allah tiga bulan ke depan kami akan berupaya untuk memenuhi kebutuhan komoditi pasar Cina dan Timur Tengah. Dari situ kita berharap kepada petani kelapa di Aceh, agar merawat dan membudidayakan kembali penanaman pohon kelapa, karena saat ini kelapa Aceh menjadi incaran pedagang di Cina dan Timur tengah, harga jualnya sangat tinggi, bahkan di atas harga pasar lokal dan pasar di Sumatra Utara,” jelasnya.

Lanjut Iskandar, kualitas kelapa Aceh sudah memenuhi standar yang diharapkan pengusaha Cina dan Timur Tengah, namun saat ini para petani belum mampu mengolahannya dengan baik, sesuai yang diharapkan, sehingga komoditi kelapa dari Aceh yang di ekspor hampir 50% masih dianggap yang reject.

“Untuk kedepan kami para pengusaha jual-beli komoditi di Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara akan melakukan sosialisasi sekaligus edukasi kepada para petani kelapa di berbagai daerah di Aceh, agar kualitas kelapa dan briket arang sesuai dengan permintaan pasar dunia khususnya Cina dan Timur Tengah,” ujar Iskandar.

Begitu juga dengan kebutuhan ekspor arang, tambah Iskandar, pemintaan untuk beberapa negara di Asia dan Timur Tengah mecapai 1000 ton perbulan, namun yang mampu diakomodir sekitar 200 ton saja. Artinya dalam hal ini kita juga harus mampu melakukan edukasi kepada pengusaha arang di Aceh, agar mampu memproduksi arang sesuai dengan standar permintaan dunia. Apa lagi natok kelapa dan kayu keras di Aceh hanya dianggap sebagai limbah, bahkan sering digunakan hanya sebagai kayu bakar, padahal bila mampu diolah maka akan menjadi barang komoditi yang bisa dipasarkan keluar negeri,” kata Iskandar.

Iskadar menyebutkan arang Aceh saat ini merupakan arang terbaik di Indonesia, dengan kontant ASH di bawah 1,7 %. Saat ini tinggal kemauan masyarakat apakah mengolahnya agar menjadi barang ekspor.

Negara di Asia dan Timur Tengah yang selalu memesan barang komoditi Aceh, di antaranya Dubai (kelapa dan arang), Arab Saudi (kelapa dan arang). Turki (arang), dan Tiang Jing Cina (arang).

Sementara itu, Jober bersama Rash Kumar, pengusaha Timur Tegah asal Dubai, saat diwawancarai menyebutkan alasan mereka memilih komoditi Aceh, karena hasil komoditi Aceh memenuhi standar kebutuhan di Timur Tengah. Menurutnya, kelapa dan arang Aceh sangat bagus, namun cara pengolahannya masih dianggap belum sempurna. Bahkan dalam waktu dekat ini kita akan menurunkan tim ke Aceh.

“Kami akan segera menurunkan tim untuk melakukan pelatihan, terkait cara pengolahan kelapa dan arang yang baik untuk petani di Lhoksemawe dan Aceh Utara, agar kualitas komoditi ini semakin baik dan dapat memenuhi standar kebutuhan pasar di Timur Tengah,” demikian Jober. (HS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukan komentar Anda disini
Masukan Nama Anda Disini