Mafia Bola Ada di Mana-mana

199

JAKARTA – Realitasonline | Mafia bola ternyata tak cuma beraksi di level profesional. Mereka ada di mana-mana, bahkan di pekan olahraga provinsi dan kompetisi usia dini.

Kasus pengaturan skor menjadi sorotan setelah Aceh United vs PSMP Mojokerto pada November 2018. Penalti Krisna Adi Darma Tama konyol tak masuk ke gawang hingga membuat PSMP tak mampu menyamakan kedudukan.

Aceh United akhirnya berhasil menjadi pemenang dalam pertandingan di stadion Cot Gapu, Bireuen, Aceh. PSMP pun gagal ke babak empat besar, padahal mereka tinggal butuh tambahan satu poin untuk lolos.

Secara kasat mata, eksekusi Krisna Adi tak mengarahkan bola ke gawang. PSMP pun diduga memberi jalan pada Semen Padang dan Kalteng Putra untuk melaju ke babak empat besar.
Banyak stakeholder sepakbola yang bereaksi.

Talkshow Mata Najwa dengan tajuk ‘PSSI Bisa Apa?’ yang ditayangkan oleh Trans7 pada akhir November 2018 membuka tabir mengenai pengaturan skor. Ujungnya, Satgas Anti Mafia Bola terbentuk usai talk show ‘PSSI Bisa Apa Jilid 2’.

Dalam acara itu, muncul whistle blower baru. Eks manajer Persibara Banjarnegara, Lasmi Indaryani, menyebutkan orang dalam PSSI yang menjadi bagian mafia. Beberapa orang, termasuk anggota Komisi Disiplin Dwi Irianto dan ketua asosiasi provinsi PSSI Jawa Tengah Johar Lin Eng, pada prosesnya ditangkap oleh pihak berwajib dan dijadikan tersangka.

Tak cuma di level liga profesional, parahnya kompetisi usia dini dan kelas pekan olahraga provinsi pun juga diatur.
“Saya merasa ditipu beberapa kali. Kami ditawari juara Piala Soeratin tapi tidak juga. Kalah, tapi tagihan di belakang sekitar Rp 150 juta. Di Porprov juga dijanjikan juara dengan bayaran dengan Rp 100 juta untuk sepakbola, dan Rp 75 juta untuk futsal,” kata Lasmi kala itu.

Laporan lain juga ada di Satgas Anti Mafia Bola. Petinggi PSSI, IB, dan mantan pengurus PSSI Jawa Timur, HS, yang dilaporkan. Mantan manajer Perseba Super Bangkalan, Imron Abdul Fatah, yang mengadukan. Kaitannya dengan penunjukkan tuan rumah delapan besar Piala Soeratin 2009.

Jumlah uang suapnya tak sedikit. Dibayarkan dalam beberapa termin, IB, yang saat itu menjadi ketua Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI), mendapat uang sebesar Rp 140 juta.

“Waktu delapan besar saya mau dibatalkan (sebagai tuan rumah), mau ‘dibuang’ (dipindah) ke Persib,” kata Imron di Jakarta, Selasa (8/1).
“Jadi saya ditelepon Pak IB ‘ini (tuan rumah) harus pindah ke Persib’, kemudian saya diminta telepon ke H.”

“Karena saya sebelumnya sudah kirim, sisanya Rp 25 juta itu dikirim tanggal 9 November 2011,” katanya.

Kini satu demi satu korban pengaturan skor mulai mau buka suara. Banyak pelaku sepakbola dari wasit hingga pengurus PSSI disebut terlibat skandal yang sudah menggurita bertahun-tahun di sepakbola Indonesia.

Kasus-kasus yang muncul sekarang ini seperti gunung es, sepertinya bakalan lebih banyak laporan lagi yang bakal datang ke Satgas Anti Mafia Bola.

Satgas Anti Mafia Bola menjadi secercah harapan, di saat PSSI sudah tak bisa lagi dipercaya untuk memberantas kecurangan dalam football family .

“Ya alasannya gini, bola ini sekarang ini sudah (ada) Satgas Anti Mafia Bola. Ini kan harapan terakhir buat kita. Sudah nggak ada harapan lagi memperbaiki bola,” Imron mengharapkan. (dtc)

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukan komentar Anda disini
Masukan Nama Anda Disini